5 Fakta Bisnis Cicak Kering dari Cirebon Dengan Omzet Ratusan Juta
5 Fakta Bisnis Cicak Kering dari Cirebon Dengan Omzet Ratusan Juta

5 Fakta Bisnis Cicak Kering dari Cirebon Dengan Omzet Ratusan Juta

Posted on

TombolEnter.com – Warga Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mendapatkan pundi-pundi rupiah dari cicak kering. Ya, cicak yang biasanya menempel di dinding rumah dijemur untuk mendapatkan keuntungan.

Bahkan usaha cicak kering yang dilakukan oleh sebagian warga ini sudah merambah pasar luar negeri atau sudah diekspor. China merupakan negara yang rutin menerima pasokan cicak kering ini.

Berikut 5 fakta bisnis cicak kering dari Kapetakan, Cirebon:

Berlari Sejak 13 Tahun Yang Lalu

Usaha cicak kering di Kecamatan Kapetakan ada di tangan seorang warga bernama Sugandi. Dia telah berkecimpung dalam bisnis ini selama sekitar 13 tahun.

Cicak yang diproduksi dan dijual oleh Sugandi bukanlah cicak hidup, melainkan telah mengering setelah melalui beberapa tahapan proses.

Dari usaha cicak kering, Sugandi yang bekerja sebagai kepala sekolah di sebuah sekolah dasar di desanya mampu membantu warga sekitar. Ia mengajak beberapa warga khususnya kaum perempuan untuk bekerja membantu proses produksi cicak kering hingga tahap pengemasan.

Dijual Rp 380 ribu per Kilogram

Setiap hari Sugandi mampu menghasilkan hingga 40 kilogram cicak kering. Sementara itu, dalam waktu satu bulan, Sugandi mengaku mampu memproduksi cicak kering lebih dari 1 ton.

Untuk setiap satu kilogram cicak kering, saat ini Sugandi menjualnya dengan harga Rp 380 ribu. Namun harga yang dikenakan untuk cicak kering berkualitas baik atau dalam kondisi utuh.

“Untuk saat ini harga per kilogramnya Rp 380 ribu. Tapi itu untuk cicak kering yang masih utuh dan berekor atau istilahnya grade A. Untuk grade B harganya Rp. 280 ribu. Selisihnya Rp. 100 ribu,” kata Sugandi.

Dalam sebulan, Sugandi mampu memproduksi dan menjual sekitar 1 ton cicak kering, baik grade A maupun grade B, sehingga omzet yang didapat dari usaha ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Diekspor ke Cina

Menurut Sugandi, cicak kering yang diproduksinya bukan untuk pasar dalam negeri. Namun, ia menjual cicak ke sejumlah negara di luar negeri, seperti China. Selama ini Sugandi mengaku banyak mengekspor cicak kering ke dalam negeri.

“Proses penjualan diurus oleh kakak saya. Biasanya saya jual ke China,” kata Sugandi.

Untuk pasokan cicak basah, Sugandi biasanya mendapatkannya dari pengepul di beberapa daerah. Mulai dari Cirebon, Indramayu hingga Karawang. Dari pengepul, Sugandi membeli cicak basah dengan harga Rp 52 ribu per 1 Kilogram.

Proses Produksi

Sebelum siap dikemas dan diekspor, cicak basah yang diperoleh Sugandi dari pengepul melalui beberapa tahapan proses.

Pertama-tama cicak yang baru datang akan melalui tahap pencucian terlebih dahulu. cicak dicuci agar tidak ada kotoran yang menempel.

Setelah proses pencucian selesai, langkah selanjutnya adalah menata cicak dalam wadah khusus sebelum dijemur di bawah terik matahari hingga setengah kering.

“Prosesnya dicuci dulu, lalu ditaruh di rak dan dijemur seharian. Malam hari di oven sampai pagi. Setelah kering baru dikemas,” kata Sugandi.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Tak hanya bicara untung, usaha cicak kering Sugandi juga ternyata membawa dampak positif bagi warga di sekitar lingkungannya.

Berkat usahanya, Sugandi mampu mempekerjakan warga, khususnya perempuan di sekitar tempat tinggalnya. Saat ini, setidaknya ada dua puluh perempuan yang bekerja sama dengannya untuk membantu memproduksi cicak kering, mulai dari tahap pencucian hingga tahap pengemasan.

“(Pegawai) ada sekitar dua puluh orang. Semuanya warga sekitar, tetangga semua,” kata Sugandi.

Dua puluh ibu yang bekerja dalam proses pembuatan cicak kering ini, masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Ada yang bertugas mencuci dan menjemur cicak dan ada pula yang bertugas mengemas cicak yang sudah jadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *